
Minyak Menguat, Hormuz Nyaris Tertutup Usai Talks AS–Iran Mandek
Harga Minyak naik setelah upaya melanjutkan pembicaraan damai terkait perang Iran tersendat, sementara Selat Hormuz tetap hampir tidak bisa dilalui dan memperpanjang gangguan pasokan dari Timur Tengah. Kondisi ini kembali menahan sentimen Pasar global karena risiko energi dan inflasi masih tinggi.
Brent sempat naik hingga 2,5% ke $107,97 per barel dan WTI bergerak mendekati $97, sebelum memangkas sebagian kenaikan setelah Axios melaporkan Teheran menawarkan proposal baru kepada AS untuk membuka kembali selat. Di akhir sesi Asia, Brent Juni tercatat naik 1,1% ke $106,46 (11.30 Singapura), sementara WTI Juni naik 0,8% ke $95,15.
Gencatan senjata disebut umumnya bertahan sejak awal April, tetapi blokade oleh AS dan Iran membuat transit harian di Hormuz turun mendekati nol. Gangguan ini menekan pasokan Minyak mentah, bahan bakar, gas alam, dan pupuk, sehingga meningkatkan kekhawatiran krisis inflasi. Mona Yacoubian dari CSIS menyebut lalu lintas di selat masih terhenti dan situasi cenderung “buntu” meski kedua pihak dinilai belum ingin kembali ke konflik terbuka.
Axios melaporkan Iran melalui mediator Pakistan menyampaikan proposal kesepakatan untuk membuka selat dan mengakhiri perang, sementara pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Trump disebut akan menggelar rapat pada Senin bersama tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri untuk membahas kebuntuan negosiasi. Sebelumnya, Trump membatalkan rencana perjalanan utusan senior ke Pakistan dan mengatakan Iran “menawarkan banyak, tapi belum cukup”, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan masuk “negosiasi yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade.
Perang yang memasuki pekan kesembilan disebut mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekurangan produk tertentu seperti LPG di India, serta membuat maskapai mengurangi penerbangan. IEA menilai konflik ini sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah. Sejumlah pelaku Pasar menilai jika penutupan Hormuz berlanjut, konsumsi global perlu menyesuaikan lebih rendah untuk menyamai pasokan yang turun setidaknya 10%, dengan risiko “demand destruction” meluas.
Dari sisi penegakan blokade, Centcom menyatakan pasukan AS mencegat kapal yang terkena sanksi di Laut Arab dan mengarahkannya kembali ke Iran di bawah pengawalan, dengan total 38 kapal telah dialihkan sejak blokade dimulai. Di jalur sanksi, AS juga menjatuhkan sanksi pada Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery terkait dugaan kaitan dengan Teheran, sementara perusahaan tersebut membantah perdagangan dengan Iran. Untuk harga, CIO Karobaar Capital Haris Khurshid memperkirakan Brent berpotensi bergerak di kisaran $100–$115 per barel kecuali terjadi eskalasi regional yang lebih luas.
5 inti poin (detail & sederhana):
– Minyak naik karena talks AS–Iran mandek dan Hormuz tetap nyaris tertutup, memperpanjang gangguan pasokan.
– Brent sempat +2,5% ke $107,97; terakhir Brent Juni +1,1% ke $106,46 dan WTI Juni +0,8% ke $95,15.
– Axios: Iran mengajukan proposal membuka selat via mediator Pakistan; Trump dijadwalkan rapat dengan tim keamanan pada Senin.
– Transit Hormuz turun mendekati nol; gangguan pasokan menambah risiko inflasi dan potensi demand destruction.
-Centcom: 38 kapal telah dialihkan sejak blokade; AS menambah tekanan lewat sanksi pada pihak yang diduga terkait ekspor Minyak Iran.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
analisis fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.